Jumat, 01 Maret 2019

SALING MENJAGA

Kerukunan umat beragama identik dengan istilah toleransi. Makna toleransi menunjukkan pada arti saling memahami, saling mengerti, saling menjaga dan saling membuka diri dalam bingkai persaudaraan. Bila pemaknaan ini dijadikan pedoman Hidup, maka ”toleransi” dan “kerukunan”  antar umat beragama adalah sesuatu yang indah dan diidamkan oleh seluruh manusia. Dalam hal Bernegara terutama di Indonesia yang menjunjung Tinggi Nilai Keberagaman (PancaSila), kerukunan beragama berarti kebersamaan antara umat beragama dengan Pemerintah dalam rangka suksesnya pembangunan nasional dan menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dalam Agama Hindu saling menghormati keyakinan masing-masing, saling tolong menolong, dan bekerjasama dalam mencapai tujuan bersama, adalah kondisi dimana semua lapisan masyarakat sedang berjuang mencapai tujuan yaitu kedamaian itu sendiri. Dalam konteks ke-Indonesiaan, kerukunan antar umat beragama berarti kebersamaan seluruh lapisan masyarakat dengan pemerintah dalam rangka suksesnya pembangunan nasional dan menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia.

ingat yaa....
saling menghormati, kedepankan Toleransi dan tetap Jaga Hati..
terutama jangan lupa ngopi. 


Rabu, 03 Oktober 2018

WEDA NUSANTARA Di Candi Palah Penataran Kab. Blitar Dokumentasi 14 September 2018












PAWAI BUDAYA (Menumbuhkembangkan Rasa Kebersamaan dalam Suatu Perbedaan)

Sekilas PAWAI BUDAYA DESA BALEREJO 
(Menumbuhkembangkan Rasa Kebersamaan dalam Suatu Perbedaan)

Bangsa indonesia dikenal sebagai bangsa yang besar, bangsa yang menghargai perbedaan dan menjunjung tinggi toleransi antar umat beragama. Selain itu indonesia dikenal sebagai masyarakat yang plural memiliki beragam suku, etnik, budaya dan bahasa. Hal ini tercermin dari semboyan bangsa Indonesia “Bhinneka Tunggal Ika” meski berbeda-beda namun tetap satu. Melihat bangsa indonesia yang masyarakatnya sangat beragam tersebut, kerukunan antar individu yang beragam tersebut sangatlah penting, terutama kerukunan antar umat beragama. Banyak masyarakat Indonesia yang melek akan teknologi namun masih rendah akan kesadaran tentang sumber informasi, terutama maraknya berita HOAKS yang sering dianggap benar keberadaanya, berita HOAKS atau berita palsu terutama terkait informasi saling hujat-menghujat antar golongasn semakin dalam meperkeruh kerukunan antar umat beragama di masyarakat Indonesia. Kita ketahui bersama bahwa permusuhan yang dipicu perbedaan agama adalah salah satu penyebab utama permasalahan yang krusial yang dapat membuat masyarakat di suatu negara terpecah belah.
Untuk itu perbedaan agama yang ada di Indonesia tidak boleh menjadi hambatan untuk mewujudakan kehidupan yang rukun dan damai. Kerukunan antar umat beragama harus mengutamakan semangat kebersamaan, saling menghormati persamaan hak dan kewajiban serta menghargai perbedaan dalam berkeyakinan hal ini pula  yang dijamin oleh negara yang tercermin pada UUD 1945 Pasal 29 tentang kebebasan beragama.
Selain kabar berita tentang keruhnya kerukunan umat beragama di Indonesia yang masih belum tentu kebenaranya, sebenarnya banyak pula masyarakat di Indonesia ini yang masih menjunjung tinggi falsafah bangsa, bahkan diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat, Desa Balerejo semisal, sebuah kawasan yang berada di lereng gunung, berada di Kabupaten Blitar (Bumi Bung Karno) Kec. Wlingi yang masyarakatnya beragam dalam memeluk agamanya masing-masing.


Hal ini dapat terlihat langsung dari keadaan desa Balerejo yang terdapat berbagai macam bangunan suci atau rumah ibadah diantaranya Masjid, Pura, Gereja dan Vihara. Secara kasap mata keberadaan bangunan suci atau rumah ibadah ini menggambarkan beragamnya masyarakat Balerejo dalam Mempercayaai keEsaan Tuhan. Meski halnya berbeda keyakinan namun tidak serta merta menjadikan kerukunan masyarakat desa balerejo terpecah belah. Namun justru keberagaman ini menjadikan gambaran bahwa kerukunan dapat terjalin meski dalam perbedaan. Terlebih pula bahwa kesadaran masyarakat desa Balerejo yang mengakui adanya perbedaan namun tetap menjunjung tinggi rasa saling menghormati dan menghargai yang selalu tertanam dalam kesadaran setiap masyarakat Desa Balerejo.      





Dokumentasi 08 September 2018 (Pawai Budaya Desa Balerejo)

Gambaran tentang kerukunan desa Balerejo tidak hanya terlihat dari beragamnya Rumah Ibadah namun juga dari tindakan masyarakat yang senantiasa guyub rukun, saling tolong menolong dalam kegiatan apapun dan selalu mengedepankan kebersamaan. Banyak hal yang dilakukan oleh Pemerintah Desa balerejo dalam tetap menjaga dan menanamkan rasa kebersamaan, salah satunya dengan mengadakan kegiatan-kegiatan yang mampu menggerakkan semangat gotong royong dan kebersamaan. Pawai budaya misalnya, dalam pelaksanaanya sudah menunjukan kebersamaan dan kekompakan dalam satu barisan tanpa adanya sekatan-sekatan yang berlatar perbedaan keyakinan. Hal-hal yang seperti ini lah yang dirasa mampu menumbuh kembangkan kesadaran masyarakat tentang betapa pentingnya kebersamaan dalam menggapai kehidupan yang damai khusunya di Desa Balerejo. Apalagi dalam pelaksanaanya Pawai Budaya Desa Balerejo ini diikuti oleh seluruh lapisan masyarakat baik yang sudah berusia tua, pemuda maupun anak-anak. Gambaran kehidupan yang seperti ini lah yang seharusnya kita berikan kepada anak-anak sebagai generasi penerus bangsa agar kesadaran tentang kebersamaan dalam perbedaan mendarah daging dalam benak generasi penerus bangsa, sehingga mampu membentengi diri dari isu-isu perpecahan bangsa melalui perbedaan keyakinan.


Dokumentasi, 09 September 2017 (Kebersamaan Dalam Pawai Budaya Desa Balerejo)


Budaya adalah identitas, untuk mengenal lebih jauh bangsa, pertama ketahuilah budayanya dan kenalilah kebudayaannya. Sebagai sebuah identitas, budaya adalah syarat mutlak yang harus dimiliki dan dengan tangan terbuka diterima sebagai suatu perbedaan. Perbedaan ini menjadikan bangsa Indonesia mempunyai alasan untuk saling menghargai dan , menjunjung tinggi apa yang mereka miliki, terutama PERSATUAN. untuk itu, dengan mengenali Budaya Nusantara para generasi penerus bangsa diharapakan dapat memiliki rasa cinta terhadap budaya Nusantara yang beragam, terlebih lagi dapat melestarikan budaya nusantara yang merupakan peninggalan para leluhur bangsa Indonesia. 





Dokumentasi, 04 September 2016 (Kebersamaan Dalam Pawai Budaya Desa Balerejo)




Jumat, 20 Oktober 2017

Serah Terima Wayang Kulit Dari Direktur Urusan Agama Hindu Kementrian Agama RI Kepada Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kab/Kota Blitar

Jum’at 20 Oktober 2017 (Sukra Pon Wuku Julungwangi) di Pura Penataran Agung Praba Bhuana, Kendalrejo Talun menjadi moment yang bersejarah bagi umat Hindu Se Blitar Raya. Betapa tidak, karena hari ini Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kab/Kota Blitar menerima Bantuan Satu set wayang kulit dari Direktur Urusan Agama Hindu Kementrian Agama RI
Drs. I WAYAN BUDHA. M.Pd.
Wayan Budha dalam pidatonya menyatakan bahwa, pemberian bantuan satu set wayang kulit ke PHDI Kab/Kota Blitar yang sebelumnya sudah menerima satu set gamelan perunggu ini bertujuan untuk tetap melestarikan budaya luhur bangsa,. Lebih lanjut Wayan Budha menyatakan bahwa kehidupan masyarakat harus bercermin pada keberagaman gamelan “gamelan terdiri dari berbagai jenis, namun kesemuanya bila dipadukan akan menciptakan nada yang indah, begitu pula keragaman dimasyarakat apabila kita kemas dengan sikap toleran dan  saling menghargai maka kedamaian akan terwujud”

Sebelumnya Kepala Dinas Sosial Kabupaten Blitar Drs. ROMELAN, S.Pd, M.Si mewakili Bupati Blitar yang berhalangan hadir pada acara tersebut, menyambut positif atas terlaksananya pemberian bantuan ini, dalam kesempatan ini juga Bapak Romelan menyatakan bahwa Ajaran Tri Hita Karana yang dikutip dalam ajaran Agama Hindu merupakan ajaran yang luar biasa (1) Hubungan manusia dengan tuhan (2) Hubungan manusia dengan sesama manusia (3) Hubungan manusia dengan lingkungan sekitar. apabila dalam kesemuanya mampu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari niscaya kedamaian ini akan terwujud.








                Sebelumnya Bapak Lestari (Ketua PHDI Kab/Kota Blitar) dalam sambutannya menyatakan terimakasih atas terselenggaranya acara ini serta ucapan terima kasih kepada pemerintah daerah yang selalu bersinergi dengan dengan PHDI hal ini terbukti selalu menghadiri acara maupun kegiatan yang dilaksanakan oleh Umat Hindu , lebih lanjut bahwa Serah terima wayang kulit ini merupakan wujud keberhasilan seluruh umat Hindu yang ada di Kab/Kota Blitar yang selalu mendukung Program PHDI, wayang ini adalah milik seluruh umat hindu Kab/Kota Blitar, mari kita gunakan sebaik-baiknya ! imbuh Bapak Lestari. Pada kesempatan ini juga Bapak Lestari Meminta restu kepada umat Hindu untuk mendukung pencalonannya sebagai DPRD Blitar melalui Dapil 3 yang sebelumnya memang sudah mendapatkan restu dan dukungan dari Bupati dan Wakil Bupati Blitar, hal ini pun disambut tepuk tangan yang meriah dari para tamu undangan maupun penonto wayang kulit, yang memang pada kesempatan ini pula wayang kulit sang sudah diterima oleh PHDI Kab/Kota Blitar langsung dipentaskan oleh dua Dalang/ duet Ki Dalang Yono (Blitar) Ki Dalang Gede (Kediri) semalam suntuk.













Sabtu, 07 Oktober 2017

Upacara Melaspas Pura Wahya Widya


Wraspati Pon wuku Wariga (05 Oktober 2017) menjadi hari yang membahagiakan dan penuh anugrah bagi pengempon pura Wahya Widya Dusun RIngintelu Desa Ngadirenggo Kec. Wlingi Kab. Blitar, tepat pada hari ini umat Hindu Dusun Ringintelu melaksanakan upacara pamelaspas Pura Wahya Widya setelah pura ini dibangun cukup lama yang di puput oleh  Singgih Pandita Tanaya Nirmala. keramaian sudah terlihat sejak pagi, umat Hindu dari berbagai wilayah berdatangan ikut menyaksikan upacara ini serta ikut menghaturkan bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. hal ini terlihat dari tempat yang disediakan panitia penyelenggara penuh sesak oleh umat Hindu, hal ini justru tidak menjadikan suatu kekurangan melainkan menjadikan bukti bahwa kerukunan dan kebersamaan selalu diutamakan umat Hindu. sudah menjadi hal yang biasa bahwa setiap pelaksaan acara dan kegiatan umat Hindu orang no 1 SeKabupaten Blitar sering Hadir, namun khusus bagi warga Ringintelu ini menjadi hal yang sangat membahagiakan atas kehadiran bapak Rijanto selaku Bupati Blitar. banyak hal yang disampaikan oleh bapak Bupati terutama mengenai pentingnya menjaga kerukunan antar umat beragama maupun sesama umat beragama. selain itu dari berbagai kegiatan yang sering dilaksanakan oleh umat Hindu dan keikutsertaan maupun kehadiran Bapak Bupati tidak lain adalah bukti sinergi antara lembaga Agama Hindu (PHDI Kab/Kota Blitar) dengan pemerintah Daerah, disela-sela sambutan bapak Rijanto juga menyampaiakan, agar kedepan ada perwakilan umat Hindu yang mau mencalonkan diri untuk menempati salah satu kursi DPR Kab. Blitar. karena dengan adanya perwakilan umat Hindu di DPR supoyo saget ngawal anggaran kagem umat Hindu imbuh Bupati dengan lantang, pada kesempatan ini juga dilaksanakan penanandatanganan prasasti oleh Bupati Blitar. selain itu juga terlihat anstusiasme umat dari dharma wacana yang disampaikan oleh bapak Yuliono, yang menceritakan sejarah umat Hindu yang ada di Sekitar Dusun Ringintelu dan menyampaikan bahwa kerukunan dan kebersamaan didalam keberagaman akan dapat menjadikan keharmonisan, berawal dari umat Hindu kita ciptakan kedamaian Nusantara "jayalah negriku jayalah Indonesiaku" Om santhi santhi santhi Om.